ini merupakan sebuah cerita yang pernah ku buat di masa lalu. mungkin ceritanya memang jelek. tapi ini merupakan salah satu cerita pertamaku, dan aku suka akan makna di dalamnya, . .
just listen it. . . hhehe
HUJAN
Oleh: Ariyanto Hermawan
Rintik hujan diiringi
cahaya mentari senja turut menemani seorang gadis yang sedang merenung di
hadapan makam ibunya. Terlihat jelas, raut muka sedih dan kedua matanya yang
bengkak akibat menangis. Citra, nama gadis cantik yang masih berseragam putih
abu-abu khas anak SMA yang basah kuyup akibat guyuran hujan deras.
“mama,
hari ini tepat setahun setelah mama pergi meninggalkan kita semua. Disini aku,
papa, dan kakak rindu sama mama.” ucap Citra sambil terisak
Tak
lama kemudian, Citra bergegas Pulang karena hari makin malam sementara hujan
yang tak kunjung reda. Citra berjalan menyusuri jalan protocol yang sepi.
“
Di hujan ini aku merasakan banyak hal. Di hujan ini aku tersenyum bahagia,
tetapi di hujan ini juga aku harus menangis kehilangan.” batin Citra sembari
memandangi langit senja yang mulai redup cahayanya.
Memang,
cukup banyak peristiwa penting yang terjadi dalam hidup Citra, dan hujanlah
yang selalu menjadi saksi bisu dari peristiwa tersebut. Termasuk kematian ibunya
akibat kecelakaan yang dialami saat mengendarai sepeda motor di tengah derasnya
hujan. Ibunda Citra tertabrak mobil karena hujan membuat pandangan matanya menjadi
sulit untuk melihat, sehingga terjadilah peristiwa naas tersebut.
Hari
semakin larut, hujan semakin deras. Citra pun mempercepat langkah kakinya
menuju rumah sambil menutupi kepalanya dengan tas. Tetapi, tiba-tiba kepala
Citra terasa berat. Pandangan matanya mulai kabur dan akhirnya Citra terjatuh.
Dengan setengah sadar, Citra melihat sesosok pemuda datang menghampirinya dan
mengantarkannya pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Citra
terbangun lemah di tempat tidurnya, mencoba untuk mendudukkan dirinya pada
tumpuan bantal-bantal. Ia memikirkan siapa sosok pemuda yang telah menolongnya.
Keesokan
harinya, di sekolah Citra terdiam memikirkan sosok laki-laki tersebut yang
menjadi tanda tanya besar. Citra tidak dapat mengingat dengan jelas sosok yang
ada dihadapannya saat itu. Citra menelusuri lorong sekolah sambil melamun.
“Bruuuukkk !” Citra menabrak seorang pemuda tinggi
berkulit putih sambil membaca buku. “maaf, saya tidak sengaja.” Ucap Citra yang
gemetaran.
Pemuda itu menatap
Citra dingin sambil tersenyum kecil dan langsung pergi meninggalkan Citra, lalu
Citra kembali ke kelas. Pelajaran hari itu berjalan seperti biasa. Namun ada
yang berbeda pada Citra. Ia hanya melamun sepanjang hari, sampai kedua
sahabatnya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Waktu berselang,
Citra makin merasakan kesakitan yang pernah ia alami. Ia semakin sering pusing,
dan pingsan. Tetapi ia tak pernah menanggapinya dengan serius. Hingga suatu
hari, ia memberanikan diri untuk mengecek kesehatannya. Dan ia kaget atas hasil
yang ia dapat. Citra menderita penyakit Cancer Otak, bahkan sudah stadium 2.
Citra yang makin kaget setelah mengetahui bahwa umurnya tak akan lama lagi.
Seketika itu huajn pun turun mengiringi kejadian
ini.
“Lagi, hujan menjadi saksi kisah ini. Biarlah hujan
yang akan menyimpan kenangan ini. Dan kini aku berdiri di tengah hujan
kesedihan yang entah akan reda atau tidak. Hingga saat kepala Citra kembali
sakit dan pendangan matanya mulai kabur, ia jatuh ke tanah. Tetapi, dengan
sigap Aska langsung menolong Citra dari belakang. Sahabat Citra yang saat itu
melihat kejadian tersebut pun datang mengampiri mereka. Citra pun kebali tak
sadarkan diri.
Memasuki
hari ketiga, Citra masih tak sadarkan diri. Hingga suatu ketika, Citra tersadar
karena mendengar lantunan suara rintik hujan. Ayah citra yang telah mengetahui
kejadian ini pun sangat khawatir dengan keadaan Citra.
Hari
demi hari telah Citra lewati di rumah sakit. Keadaan Citra makin memburuk.
Tubuhnya makin rapuh. Citra merasa bahwa ia tak akan kuat bertahan lagi. Tetapi
Citra masih mempunyai satu permintaan terakhir. Ia hanya ingin di hari terakhirnya,
Citra dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginuya. Dan Aska paham maksud
dari permintaan Citra. Aska bergegas menyiapkan itu semua sementara kedua
sahabatnya bingung harus berbuat apa.
Keesokan
harinya, Ayah, kakak, kedua sahabat, serta teman-teman dekat Citra diminta oleh
Aska untuk datang ke sebuah taman mengenakan pakaian berwarna putih. Tidak ada
yang tahu apa maksud Aska. Aska pun hanya diam ketika ditanya oleh
teman-temannya. Sesuai rencana, semua orang terdekat Citra telah datang ke
tempat tersebut. Mereka terkejut melihat keindahan taman yang telah disulap
oleh Aska menjadi pesta yang sangat megah.
Tak
lama kemudian, Aska datang bersama Citra yang duduk di kursi roda dan matanya
tertutup oleh kain putih. Setelah itu, Citra membuka mata. Ia terkejut bahwa
Aska mampu memberinya sesuatu yang paling berharga di sisa hidupnya. Tetapi
Citra heran, bagaimana caranya Aska dapat mengetahui ini semua.
Akhirnya
acara pun dimulai. Citra pun merasa bahagia. Dikelilingi oleh orang-orang
terdekatnya dengan penuh canda tawa. Pesta ini berjalan dengan meriah. Semuanya
bersenang-senang. Hingga akhirnya, kepala Citra terasa sakit. Sakit yang paling
sakit. Citra pun terjatuh. Suasana menjadi sedih. Citra sudah tidak kuat untuk
bertahan. Dengan pandangan yang kabur, Citra melihat sosok Aska dari belakang.
Ia hanya tersenyum lepas. Aska seperti memberi tanda kepada Citra. Dan
akhirnya, Aska menghilang entah kemana. Citra pun tersenyum dan Ia
menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Mereka menangis histeris melihat
sosok Citra tak bernyawa. Tetapi tidak ada satu orang pun yang melihat sosok
Aska. Entah kemana perginya Aska, dan mengapa Citra tesenyum di akhir hayatnya.
Itu semua menjadi misteri. Dan hujan pun turun mengiringi kepergian Citra.
“Di hujan ini aku merasakan banyak hal. Di hujan ini aku tersenyum bahagia, tetapi di hujan ini juga aku harus menangis kehilangan. Dan di hujan ini juga aku kembali menemukan kebahagiaan yang abadi.”






0 komentar:
Posting Komentar