Malam itu seperti malam biasanya,
semua berjalan layaknya malam malam lalu. Hingga akhirnya, aku membuat sebuah
kesalahan yang cukup fatal. Kurasa semua rasa itu langsung runtuh seketika.
Beribu rasa sesal di hati sekaligus rentetan permintaan maaf yang coba ku
lisankan, sepertinya belum cukup untuk mengembalikan pesona malam itu. Sebuah
senyuman yang awalnya hadir, berubah
menjadi sebuah amarah dan tangisan seketika itu juga.
Yaaa, Ketika sebuah senyuman
indah itu hilang dari wajahnya, yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan.
Mengapa aku bisa berbuat hal sebodoh itu ?, tanpa memikirkan reaksi yang
terjadi selanjutnya. Benar saja, malam itu seolah berbeda, gairah untuk
melanjutkan malam itu seolah sirna, seiring dengan dering handphone ku yang tak
kunjung bergetar.
STAK !!!, mentok, bingung, dan tak tahu harus
mengungkapkannya seperti apa. Malam itu terasa berat bagiku. Hati ini seolah
tak tenang, dan terus menyalahkan tangan yang mengetik kata kata itu, otak yang
berfikir tentang kata kata itu, dan semua hal yang dapat kusalahkan.
Ingin rasanya ku segela terlelap,
dan berharap ketika ku terbangun nanti, semuanya akan kembali normal. Tapi,
jangankan untuk terlelap, untuk sedikit relax pun tak mampu. Hanya kata maaf
yang berusaha ku ucap. Aku hanya tak ingin ada hati yang tersakiti. Heyyy,
kapan pagi hari kan segera datang menggantikan sang malam ???. Kurasa itu masih
beberapa jam lagi
Esok pagi, ku coba tuk berfikir
positif dan melihat apakah ada tanda pesan darimu. Namun nyatanya, itu semua
sama sekali tak ada. Yahhhh, rasanya hari ini akan kulewati dengan sangat
berat. Atau bahkan hari hari selanjutnya pun akan seperti ini. Kembali ku
mencoba untuk membuat senyum itu kembali hadir, sebuah pesan yang ku kirimkan,
dengan harapan ia mau mendengar alasanku. Namun, itu semua tak semudah itu.
Ku tinggalkan sejenak cerita
tentangnya, dan mencoba mengikuti alur hari itu. Serangkaian permainan outbond
yang coba ku ikuti. Namun rasanya, tak mudah untuk menyingkirkan rasa itu.
Hingga pada akhirnya, kecerobohan ku
sendiri yang membuat ku jatuh di lembah itu. Sakit memang, tapi mungkin tak
sesakit yang hati ini rasakan. Biarlah kurasakan ini, anggap saja sebagai
sebuah balasan karena aku telah menghancurkan senyuman itu.
Jernih warna air pantai, desir
ombak yang berirama, bentangan pasir krem keclokatan yang ada dihadapanku
seolah tak mampu menghiburku. Termenung di pesisir pantai, tanpa menikmati
sedikitpun tentang segala keindahan yang tercipta untukku. Untuk apa aku
disini, ketika semua sedang bersenang – senang menikmati hari ini, aku hanya
bisa terkurung dalam imajinasiku. Andai saja aku tidak menjadi diriku malam
itu, mungkin semuanya tak akan seperti ini.
Hingga saatnya sebuah percakapan
kembali terjalin, dan rasanya hampir putus asa. Aku berusaha merelakan apa yang
terjadi hari ini. Tak apa bagiku, jika kau tak ingin kembali bercengkrama
denganku, tapi aku hanya ingin meminta maafmu sejenak. Setelah itu, silahkan
lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku.
Saat rasa sakit semakin memuncak
akibat kecerobohanku sendiri, terlintas sebuah asa tentang senyuman malam itu.
Setidaknya, aku bisa sedikit lebih tenang,
Aku harap tak akan ada lagi malam yang kulewati seperti malam itu. Aku
hanya tak ingin semua keceriaan itu hilang menghiasi hari – hariku. Ketika senyuman
itu hilang dari wajahmu, aku pun nyaris kehilangan semangatku. Karena ketika
senyuman itu tak lagi hadir, aku pun ikut kehilangan senyuman itu.
Jadi, teruslah tersenyum untukku.
Teruslah buat aku merasakan bahwa hari itu semakin indah dengan hadirnya
dirimu. Dan ku mohon untuk terus mengisi hari hariku dengan senyum dan
keceriaanmu. Karena kuingin, senyuman itu selalu hadir untuk setiap rasa yang
kudapat,,,
-o0o-





