RSS

Ketika Senyuman itu Hilang dari Wajahmu


Malam itu seperti malam biasanya, semua berjalan layaknya malam malam lalu. Hingga akhirnya, aku membuat sebuah kesalahan yang cukup fatal. Kurasa semua rasa itu langsung runtuh seketika. Beribu rasa sesal di hati sekaligus rentetan permintaan maaf yang coba ku lisankan, sepertinya belum cukup untuk mengembalikan pesona malam itu. Sebuah senyuman yang  awalnya hadir, berubah menjadi sebuah amarah dan tangisan seketika itu juga.

Yaaa, Ketika sebuah senyuman indah itu hilang dari wajahnya, yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan. Mengapa aku bisa berbuat hal sebodoh itu ?, tanpa memikirkan reaksi yang terjadi selanjutnya. Benar saja, malam itu seolah berbeda, gairah untuk melanjutkan malam itu seolah sirna, seiring dengan dering handphone ku yang tak kunjung bergetar.

STAK !!!,  mentok, bingung, dan tak tahu harus mengungkapkannya seperti apa. Malam itu terasa berat bagiku. Hati ini seolah tak tenang, dan terus menyalahkan tangan yang mengetik kata kata itu, otak yang berfikir tentang kata kata itu, dan semua hal yang dapat kusalahkan.

Ingin rasanya ku segela terlelap, dan berharap ketika ku terbangun nanti, semuanya akan kembali normal. Tapi, jangankan untuk terlelap, untuk sedikit relax pun tak mampu. Hanya kata maaf yang berusaha ku ucap. Aku hanya tak ingin ada hati yang tersakiti. Heyyy, kapan pagi hari kan segera datang menggantikan sang malam ???. Kurasa itu masih beberapa jam lagi

Esok pagi, ku coba tuk berfikir positif dan melihat apakah ada tanda pesan darimu. Namun nyatanya, itu semua sama sekali tak ada. Yahhhh, rasanya hari ini akan kulewati dengan sangat berat. Atau bahkan hari hari selanjutnya pun akan seperti ini. Kembali ku mencoba untuk membuat senyum itu kembali hadir, sebuah pesan yang ku kirimkan, dengan harapan ia mau mendengar alasanku. Namun, itu semua tak semudah itu.

Ku tinggalkan sejenak cerita tentangnya, dan mencoba mengikuti alur hari itu. Serangkaian permainan outbond yang coba ku ikuti. Namun rasanya, tak mudah untuk menyingkirkan rasa itu. Hingga pada akhirnya, kecerobohan  ku sendiri yang membuat ku jatuh di lembah itu. Sakit memang, tapi mungkin tak sesakit yang hati ini rasakan. Biarlah kurasakan ini, anggap saja sebagai sebuah balasan karena aku telah menghancurkan senyuman itu.

Jernih warna air pantai, desir ombak yang berirama, bentangan pasir krem keclokatan yang ada dihadapanku seolah tak mampu menghiburku. Termenung di pesisir pantai, tanpa menikmati sedikitpun tentang segala keindahan yang tercipta untukku. Untuk apa aku disini, ketika semua sedang bersenang – senang menikmati hari ini, aku hanya bisa terkurung dalam imajinasiku. Andai saja aku tidak menjadi diriku malam itu, mungkin semuanya tak akan seperti ini.

Hingga saatnya sebuah percakapan kembali terjalin, dan rasanya hampir putus asa. Aku berusaha merelakan apa yang terjadi hari ini. Tak apa bagiku, jika kau tak ingin kembali bercengkrama denganku, tapi aku hanya ingin meminta maafmu sejenak. Setelah itu, silahkan lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku.

Saat rasa sakit semakin memuncak akibat kecerobohanku sendiri, terlintas sebuah asa tentang senyuman malam itu. Setidaknya, aku bisa sedikit lebih tenang,  Aku harap tak akan ada lagi malam yang kulewati seperti malam itu. Aku hanya tak ingin semua keceriaan itu hilang menghiasi hari – hariku. Ketika senyuman itu hilang dari wajahmu, aku pun nyaris kehilangan semangatku. Karena ketika senyuman itu tak lagi hadir, aku pun ikut kehilangan senyuman itu.


Jadi, teruslah tersenyum untukku. Teruslah buat aku merasakan bahwa hari itu semakin indah dengan hadirnya dirimu. Dan ku mohon untuk terus mengisi hari hariku dengan senyum dan keceriaanmu. Karena kuingin, senyuman itu selalu hadir untuk setiap rasa yang kudapat,,,




-o0o-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analogi Sebuah Lukisan : Kesalahan sang Ekspektasi


Di suatu sisi, akan ada orang yang berkata : “wahhh, Lukisannya bagus ya, keren bisa gambar seperti ini, padahal kan dia bukan pelukis...”

Dan di sisi yang lain, seseorang juga bisa berkata : “Lukisannya biasa aja ah, dia kan pelukis, harusnya gambarnya lebih bagus daripada ini...”


Itulah hidup, terkadang rasanya muak ketika kita hidup dalam ekspekatasi orang lain.
Ketika kita ingin mempersembahkan sesuatu, orang lain selalu punya standar akan hal itu.
Hingga akhirnya, terasa akan adanya beban yang menancap di pundak ini.
Ya, rasanya beban itu membuat semangat tak semembara dulu.


Bolehkah setidaknya aku bertanya sejenak ?
Salahkah aku yang tak ingin dicap seperti apa yang kalian bayangkan ?
Bisakah aku menjadi aku yang apa adanya, tanpa batasan ekspektasi yang kalian buat ?
Mampukah aku untuk tetap menjadi aku yang sama seperti kalian ?


Layaknya sang pelukis ulung, ada kalanya hasil lukisannya tak sebagus biasanya. Namun mengapa orang lain mengecap itu sebagai sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Salahkah seorang pelukis ulung melukis hal yang biasa saja ? Haruskah selalu pelukis ulung itu melukis sesuai dengan apa yang kalian harapkan ?
Namun, ketika seseorang biasa memegang lukisan yang dibuat oleh sang pelukis ulung, dan berkata bahwa itu adalah lukisan yang ia goreskan. Respon dari khalayak ramai justru memujinya, dan mengatakan bahwa itu kerja yang baik. “Hey, Apa bedanya jika sang pelukis ulung yang memegangnya ?”, Bukankah hal itu tidak adil ?, Tapi itulah paradigma yang terjadi saat ini. Bukan apa yang dihasilkan, tetapi siapa yang menghasilkan.


Suatu ketika, seseorang berekspektasi padaku tentang apa yang dia harapkan dariku. Tapi kurasa, itu bukanlah aku. Seolah menggambarkanku sebagai sosok yang pandai, rajin, selalu belajar, kutu buku, unsosial,,, layaknya mayoritas dari mereka yang sekedar mengenalku. Tapi apakah aku sesempurna itu ? atau bahkan seburuk itu ?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analogi Persahabatan : Koin dan Sepatu

Sebuah kilasan video, yang dibuat menjadi potongan gambar
menceritakan tentang sebuah pengandaian arti sahabat,
dari hal yang simpel, namun penuh makna,

Dibuat pada tanggal 11-11-2011, 

niat awal dibuatnya video ini adalah sebagai hadiah untuk sahabat terbaikku :)
so, check it out !!!





Terima kasih atas apa yang telah kalian ajarkan padaku :)
Dan ingat janji kalian padaku, karena aku kan selalu ingat janjiku pada kalian :) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Diam dan Hening : Sebuah persimpangan Jalan

Sahabat,
Ketika aku tersenyum, bukan berarti aku tidak membutuhkan bantuanmu.
Ketika aku menangis, aku hanya sedang menanti perhatianmu.
Disaat engkau terdiam, aku pun ikut terdiam,
Karena diam, bukan berarti kita tidak saling bicara,
Karena diam, tak sekedar hening.
bahwa diam, tanpa kata namun tetap bermakna.


Diam dan hening,,,
Terdiam didalam keheningan, tapi tidak hening dalam kediaman.
Saat langkah tak menepi, berhenti di sebuah persimpangan jalan.
Mencoba melangkah namun tak tahu arah, mencoba bertanya namun dalam diam


Mungkinkah harus kembali ?
Disaat sebuah pengharapan telah memulai langkahnya
Mungkinkah harus menyerah ?
Disaat puncak telah mulai terlihat, disaat aku mulai bisa berlari


Tidakkah kau sadari,
Persimpangan jalan ini hanya memberimu pilihan,
Pilihan tentang jalan yang akan kau lalui,
Jadi, tak ada gunanya untuk sekedar terdiam,


Tidak ada persimpangan yang salah,
Yang ada hanya kita yang salah memberi makna,
Tidak ada jalan yang benar,
Ketika kita hanya bisa merasakan aura kegelapan didalamnya.


Dua dunia, dua pilihan, dua sisi,,
Namun satu makna, satu tujuan, dan satu rasa.


Persimpangan memberikan dua dunia, gelap dan terang
Persimpangan memberikan dua sisi, cahaya dan takut
Namun, persimpangan juga memberikan dua pilihan,
Gelap dalam terang, atau terang dalam gelap.
Cahaya dalam ketakutan, atau ketakutan dalam cahaya.
Itu mengapa, sebuah persimpangan jalan bisa menjadi sangat menakutkan sekaligus sangat mengharukan.


Tapi, pada akhirnya persimpangan memberikan satu makna, tujuan, serta rasa.
Makna bahwa tujuan kita berawal dari rasa,
Bahwa Tujuan kita memiliki rasa yang bermakna,
Dan Rasa dalam makna untuk satu tujuan..


Jadi, Belum saatnya berhenti hanya karena sebuah persimpangan jalan.
Tetaplah berjalan, tanpa ragu,
Jika ragu, mungkin ada kalanya kita harus sedikit merangkak untuk mencapai seberang jalan.


Sebuah kilas balik perjalanan seorang anak manusia, yang tengah berusaha mempertahankan jati dirinya, yang kini berada di arus permainan kedewasaan. Tidak perlu merunut kejadian yang lalu. Yang kita butuhkan saat ini adalah kesempatan untuk percaya bahwa kita punya sebuah mimpi yang harus diwujudkan, bahwa kita hanya ingin mencapai satu asa yang telah kita tancapkan di puncak.



Malam ini, sedikit belajar dari sebuah persimpangan, mengenai arti penguatan jati diri yang sebenarnya :)


Regrads  


~AYH~  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS