Tak pernah disangka,
Kala itu seseorang yang memang ahli dalam hal ini,
memprediksikan ku, bahwa akan terjadi sesuatu hal di masa depan
Tak pernah disangka,
Prediksi itu hampir tidak meleset sedikitpun.
Ya, Rasanya saat ini dunia sedang berbalik membelakangiku.
Saat rasanya, sebuah senyuman mengembang dengan sangat
terang dari wajahku. Namun tiba tiba, senyum itu memaksa untuk melepaskan diri
dariku.
Seorang anak manusia mendapatkan sebuah cobaan baru dalam
fase hidupnya. Setelah berjuang sekian lama, akhirnya memang tidak bisa
mengelak dari apa yang memang seharusnya terjadi.
Kurang lebih tiga minggu,
Mungkin lebih tepat jika aku menuliskan yang terlihat hanya
tiga minggu, dari rentetan cobaan ini.
Tiga minggu yang benar benar menguji kesabaran, menguras
emosi, menumpahkan air mata dan harapan.
Tiga minggu yang meruntuhkan segala harapan, segala mimpi
yang pernah ku torehkan.
Dalam lamunan kala itu, banyak hal yang terlewati. Banyak sesal
yang terucap. Semuanya berlalu begitu saja.
Hari hariku yang kala itu hanya di sebuah kamar tidur
berlangitkan atap rumah, yang terus menerus menjadi pemandanganku.
Rasa yang kuderita, ditambah semangat yang pupus, raga yang
lemah, dan pikiran yang bercabang membuatku tak ingin melakukan apapun.
Dering telepon dan pesan singkat yang masuk ke handphone ku,
tak mengusikku sedikitpun.
Pikiranku kosong, hanya lamunan yang mengisi waktuku,
sembari kasih sayang dan dorongan mental yang coba diberikan oleh orang orang
terdekatku.
Sempat ku buka semua pesan yang masuk ke handphone ku. Dengan
nada yang serupa, menanyakan apa yang sedang terjadi.
Bukan ku tak ingin menjawab, hanya saja, rasanya sakit
bagiku untuk mengatakan kenyataan yang sedang terjadi.
Hanya balasan sebuah ucapan terima kasih dan sebuah tanda
senyuman, sembari mengatakan “Aku tidak apa apa”.
Mungkin hanya itu yang dapat aku katakan kala itu,
Nada – nada khawatir yang terus mereka kirimkan, tak khayal
hanya membuatku semakin merasa miris.
Selemah itukah aku ??
Payah rasanya, 20 tahun sudah ku hidup, dan saat itu aku
tidak bisa melakukan apapun.
Pergolakan mental kala itu, mungkin menjadi yang terberat
hingga saat ini.
Setelah kurang lebih tiga minggu dalam tanda kutip, aku
memaksakan diri untuk keluar dari zona biru itu.
Berusaha untuk bangkit, untuk kembali menata masa depan.
Dengan semangat yang rasanya hampir tidak ada, akupun
melangkahkan kaki kembali, menuju kelas kelas yang sempat kutinggalkan.
Memasuki pintu kelas, semua mata rasanya tertuju padaku,
menanyakan apa yang sebenarnya tejadi.
Dengan muka yang masih pucat, badan yang masih lemas, dan
suara yang sayup sayup, memberikan sebuah senyuman pun rasanya sudah cukup
bagiku untuk menjawab –pertanyaan mereka.
Lagi lagi aku melakukan itu untuk alasan yang sama.
Namun apa daya, semuanya tidak dapat ditutupi, rasa lelah
yang sangat menyiksa, selalu menderaku disetiap langkahku.
Sempat ku berpikir, haruskah ku menunda semua ini, hingga
nanti datang masanya aku menjadi aku yang biasanya.
Namun mereka yang menguatkanku, yang selalu mendorongku,
bukan hanya mendorong, merangkul dan memapahku demi menguatkanku.
Hingga sampai saat ini, senyuman itu perlahan mulai kembali.
Entah rasanya harus berapa lama lagi aku merasakan semua
ini,
Entah harus seberapa sabar ku untuk tetap menjaga semua ini,
Aku lelah harus menerima semua perlakuan ini, aku hanya
ingin semuanya menjadi biasa.
Aku memang lemah, tapi bukan menjadi sebuah bahan ejekan.
Aku memang payah, tapi bukan berarti itu menjadi sebuah
alasan.
Aku tidak ingin terus menjadi seperti ini.
Aku memang seseorang yang lemah, tapi aku sedang belajar
untuk kembali menjadi kuat.
Aku hanya ingin kalian membantuku untuk menguatkanku, bukan
malah mengingatkanku tentang hal ini.
Aku tidak meminta banyak,
Aku hanya minta, Bantu aku,,, Kuatkan aku untukmenjalani ini
semua, untuk segera keluar dari tempat yang membuatku merasa terhempit.
Aku hanya mohon itu.
~AYH~