RSS

Dua Sisi : Menunggu dan Bergerak (Lintasan Orbit dan Koordinat)

Pada prinsipnya, kita takkan pernah bisa memastikan segala sesuatunya sebelum Allah merestui. 

Mungkin, untuk saat ini aku lebih suka untuk menyebutnya sebagai "berjuang bersama sama untuk saling memperbaiki diri". Bagaimana kita mengupgrade apa yang kita punya dengan tujuan memantaskan diri kita untuk pasangan kita kelak. 

Terdapat dua kelompok dalam pemisalan ini, dia sebagai yang menunggu, dan aku sebagai yang bergerak

Aku akan berusaha untuk tetap melintasi sesuai dengan orbitku. Dan, tak bisa dipungkiri, jika akhirnya nanti lintasan orbit ku akan melewati titik koordinatmu, itupun kalau kamu tidak bergeser sedikit pun dari titik koordinatmu semula. Jika pada akhirnya, kamu merasa perlu mengubahnya, mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengan titik koordinat lainnya, yang memang ditakdirkan untuk berpapasan denganku. 

Aku takkan mengelak jika aku harus melintasi orbitmu kembali. Tapi, aku pun takkan mundur, jika nyatanya ada koordinat baru yang muncul, yang terbaik untukku. Koordinat yang telah yakin akan kehadiran lintasanku. 


Sampai saat itu tiba, kini yang harus terus kulakukan adalah memperbaiki diri. Hingga saatnya nanti, seseorang yang akan menggenapkanku telah hadir dengan kualitas dirinya, yang pantas dan terbaik untukku. Karena ketika sebuah lintasan orbit telah sampai pada suatu koordinat, ia akan mulai memasuki fase yang baru.

:):):)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal Muasal Geng Ceriwis (Kelompok Praktikum Fisika) Part I


Malam Guysss, Mau curhat dikit nih ahh, Beberapa hari ini sedang sedikit merasakan kesenduan di hati rasanya, bukan galau tapinya. Hanya rasanya semua memori di masa lalu sedang terpaparkan di sebuah layar bioskop pribadi,,, #apasihhh.

Tapi cerita malam hari itu bukan tentang kesenduan yang sedang saya alami, melainkan mengambil satu perubahan dari diri saya tentang sebuah kepercayaan, (rasanya pernah membahas ini saat sedang di kampus inggris (red. Trust Is a Must)).

Percaya Akan sebuah kepercayaan!. Itulah timeline dari tulisan saya kali ini. Sedikit menengok ke belakang (*,*), bukan mengingat masa lalu yaa, #moveonatuh hhehe. Intinya adalah, Dahulu, saya adalah tipikal orang yang memberikan kepercayaan saya terhadap orang orang terdekat saya. Sepenuhnya saya berikan kepercayaan saya, hingga rasanya saya tidak memiliki kepercayaan lagi (opo menehh tohh masse, Ngawurrrr).
Yaa, rasanya prinsip itu bisa saya laksanakan dengan baik semasa dalam masa putih abu – abu. (Sekedar Informasi, saya pernah jadi siswa SMA loh #GaPENTING). Hingga akhirnya saya memasuki dunia perkuliahan, awalnya semua masih berjalan dengan baik. Saya bahkan langsung bisa mempercayai orang – orang yang rasanya belum seminggu saya kenal. Mereka lah kelompok Praktikum Fisika Saya, Personilnya itu adalah Saya, Agus, Henny, Chika, Pristi, Citra, Agung, Reza. Namun, dua nama terakhir yang saya sebutkan tidak begitu membaur.

Enam serangkai yang rasanya masih sangat polos dengan perkuliahan serta kehidupan di Bogor memulai untuk merangkai cerita indah bersama mengawali pijakan awal kita bersama di Universitas yang sama. Perkenalan dulu ya, Enam Serangkai yang nantinya akan saya sebut menjadi FISIKAerss (Apasihh, ga bagus banget. Tapi yasudahlah, apa arti sebuah nama), terdiri dari 6 mahasiswa dari 2 departemen yang berasal dari satu fakultas yang sama yaitu FMIPA. Saya, Henny, Chika, dan Agus berasal dari departemen Matematika, dan Pristi juga Citra berasal dari Departemen Ilkom. Kami pertama kali berkumpul saat praktikum pertama Fisika saat Matrikulasi. Mulai merancang siapa yang jadi ketua kelompok, ini itu, bla bla bla..... 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Who's "Aher" ?

Berawal dari sebuah celetukan seorang temanku, saat aku terduduk di suatu ruang kelas sesaat sebelum sang dosen datang.....



Yaa, di suatu kelas berisi kumpulan mahasiswa Matematika IPB angkatan 48, tepatnya seseorang teman bernama Mula, entah mendapatkan ide darimana, langsung saja memanggil namaku dengan sebutan baru yang unik, ""Aherrrr...", Nama lu kan Ariyanto Hermawan, Kalo disingkat jadinya Aherr, Wahhh, Ada Calon Gubernur Jawa Barat nihhh....". Kurang lebih, begitulah yang ia sampaikan. Tak kelak seisi kelas pun bergemuruh menertawakan dan mengiyakan akan hal itu..

Dan dari situlah semuanya berawal. Sesaat setelah itu, banyak temanku yang mulai mengikuti percakapan tadi... "Aheerrr, Aheerrr, dan Aherrr,,,,". Rasanya kesal mendengar celotehan itu. Mungkin saat itu sedang ramai - ramainya, mendekati pemilihan orang nomor 1 di Jawa Barat (red. Gubernur Jabar), dan sosok yang pencitraannya cukup populer saat itu ya Aher, Namun bukan Ariyanto Hermawan, melainkan Ahmad Heryawan. Yaa, Kalau dilihat, mungkin secara singkatan, kedua nama itu bisa disingkat dengan pelafalan yang samaa... Tapi rasanya tak nyaman mendapatkan panggilan baru seperti itu. Bukan berarti tidak suka, namun agak sedikit risih, mendengar panggilan yang semula "Ar",  atau "Rii",  kini berubah menjadi "Herr". Namun apa daya, kehendak tidak bisa dipaksakan, perlahan panggilan itu hampir merata di seluruh kelas. Yasudahlah...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kuatkan aku...


Tak pernah disangka,
Kala itu seseorang yang memang ahli dalam hal ini, memprediksikan ku, bahwa akan terjadi sesuatu hal di masa depan
Tak pernah disangka,
Prediksi itu hampir tidak meleset sedikitpun.

Ya, Rasanya saat ini dunia sedang berbalik membelakangiku.
Saat rasanya, sebuah senyuman mengembang dengan sangat terang dari wajahku. Namun tiba tiba, senyum itu memaksa untuk melepaskan diri dariku.
Seorang anak manusia mendapatkan sebuah cobaan baru dalam fase hidupnya. Setelah berjuang sekian lama, akhirnya memang tidak bisa mengelak dari apa yang memang seharusnya terjadi.

Kurang lebih tiga minggu,
Mungkin lebih tepat jika aku menuliskan yang terlihat hanya tiga minggu, dari rentetan cobaan ini.
Tiga minggu yang benar benar menguji kesabaran, menguras emosi, menumpahkan air mata dan harapan.
Tiga minggu yang meruntuhkan segala harapan, segala mimpi yang pernah ku torehkan.




Dalam lamunan kala itu, banyak hal yang terlewati. Banyak sesal yang terucap. Semuanya berlalu begitu saja.
Hari hariku yang kala itu hanya di sebuah kamar tidur berlangitkan atap rumah, yang terus menerus menjadi pemandanganku.
Rasa yang kuderita, ditambah semangat yang pupus, raga yang lemah, dan pikiran yang bercabang membuatku tak ingin melakukan apapun.
Dering telepon dan pesan singkat yang masuk ke handphone ku, tak mengusikku sedikitpun.
Pikiranku kosong, hanya lamunan yang mengisi waktuku, sembari kasih sayang dan dorongan mental yang coba diberikan oleh orang orang terdekatku.
Sempat ku buka semua pesan yang masuk ke handphone ku. Dengan nada yang serupa, menanyakan apa yang sedang terjadi.
Bukan ku tak ingin menjawab, hanya saja, rasanya sakit bagiku untuk mengatakan kenyataan yang sedang terjadi.
Hanya balasan sebuah ucapan terima kasih dan sebuah tanda senyuman, sembari mengatakan “Aku tidak apa apa”.
Mungkin hanya itu yang dapat aku katakan kala itu,
Nada – nada khawatir yang terus mereka kirimkan, tak khayal hanya membuatku semakin merasa miris.
Selemah itukah aku ??
Payah rasanya, 20 tahun sudah ku hidup, dan saat itu aku tidak bisa melakukan apapun.
Pergolakan mental kala itu, mungkin menjadi yang terberat hingga saat ini.


Setelah kurang lebih tiga minggu dalam tanda kutip, aku memaksakan diri untuk keluar dari zona biru itu.
Berusaha untuk bangkit, untuk kembali menata masa depan.
Dengan semangat yang rasanya hampir tidak ada, akupun melangkahkan kaki kembali, menuju kelas kelas yang sempat kutinggalkan.
Memasuki pintu kelas, semua mata rasanya tertuju padaku, menanyakan apa yang sebenarnya tejadi.
Dengan muka yang masih pucat, badan yang masih lemas, dan suara yang sayup sayup, memberikan sebuah senyuman pun rasanya sudah cukup bagiku untuk menjawab –pertanyaan mereka.
Lagi lagi aku melakukan itu untuk alasan yang sama.
Namun apa daya, semuanya tidak dapat ditutupi, rasa lelah yang sangat menyiksa, selalu menderaku disetiap langkahku.
Sempat ku berpikir, haruskah ku menunda semua ini, hingga nanti datang masanya aku menjadi aku yang biasanya.
Namun mereka yang menguatkanku, yang selalu mendorongku, bukan hanya mendorong, merangkul dan memapahku demi menguatkanku.
Hingga sampai saat ini, senyuman itu perlahan mulai kembali.


Entah rasanya harus berapa lama lagi aku merasakan semua ini,
Entah harus seberapa sabar ku untuk tetap menjaga semua ini,

Aku lelah harus menerima semua perlakuan ini, aku hanya ingin semuanya menjadi biasa.
Aku memang lemah, tapi bukan menjadi sebuah bahan ejekan.
Aku memang payah, tapi bukan berarti itu menjadi sebuah alasan.

Aku tidak ingin terus menjadi seperti ini.
Aku memang seseorang yang lemah, tapi aku sedang belajar untuk kembali menjadi kuat.
Aku hanya ingin kalian membantuku untuk menguatkanku, bukan malah mengingatkanku tentang hal ini.

Aku tidak meminta banyak,
Aku hanya minta, Bantu aku,,, Kuatkan aku untukmenjalani ini semua, untuk segera keluar dari tempat yang membuatku merasa terhempit.
Aku hanya mohon itu.






~AYH~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dua Sisi : Kemarin, Hari Ini, dan Esok :)

Kemarin,
Kita saling bercanda gurau satu sama lain, membicarakan hal yang entah menuju kemana

Kemarin,
Kita saling bercerita tentang apa yang kita rasakan, tentang secuil keluh kesah yang kita hadapi

Kemarin,
Kita selalu bercengkrama sepanjang hari, mengharapkan adanya suatu konklusi tentang semuanya...


Tapi,
Kemarin,
Yang kurasakan, kita membahas tentang luasnya langit, dalamnya samudra, dan panasnya matahari.
Pernahkan kamu berfikir, untuk sejenak membahas lebih dalam, seperti : siapa yang selalu menghiasi sang langit, apa yang terdapat di dalamnya samudra, atau bahkan, pernahkah kamu berfikir untuk mengunjungi panasnya sang mentari ?.
Aku rasa tidak !!

Kemarin,
Kamu hanya berusaha menceritakan sisi luar tentang siapa dirimu.
Tapi bodohnya, aku terlalu berharap untuk sedikit saja melihat sisi dalam akan dirimu.

Kemarin,
Aku sudah berusaha menceritakan dua sisi tentang diriku sendiri. Dengan harapan, kamu mau berlaku sama.
Tapi kurasa, semua itu percuma.
Engkau masih saja setia dengan kehidupanmu bukan ?

Namun,
Hari ini,
Aku terengah diperjalanan, ketika ku menemukan sebuah tulisanmu.
Apa aku harus menyerah sekarang ?
Tidakkah kau mau memberiku satu kesempatan untuk mengenalmu ?
Apa kau sudah terlalu larut dalam emosimu ?

Mungkin iya,
Karena, aku tidak memiliki alasan untuk kau masukkan ke dalam bagian hidupmu.
Sedikitpun !!!

Hari ini,
Aku hanya berusaha untuk tetap berjuang, berjuang agar suatu saat, kau mau menganggap aku ada.
Aku hanya ingin kau tahu, ada seseorang yang selalu memikirkanmu.
Namun rasanya semua itu sia sia.

Hari ini,
Semangatku tak semenggebu biasanya,
Kalau memang sudah tidak mungkin ada harapan, untuk apa aku berjuang ?
Kalau memang kau masih setia, untuk apa aku berusaha bertahan.


Tapi,,
Aku masih ingin sedikit berharap,
Dan aku juga punya harapan lain, agar harapanku yang satu ini akan terwujud suatu saat nanti.

Karena esok,
Aku masih ingin terus melihat senyumanmu.
Aku masih ingin mendengarkan celotehanmu.
Dan juga, semua cerita tentang dirimu.

Karena esok,
Aku ingin agar harapanku bukan lagi sekedar sebuah harapan belaka.
Aku mau kamu sedikit memberikanku sesuatu yang aku harapkan.

Aku tak berharap banyak darimu,
Aku hanya ingin, sedikit saja perhatianmu.
Aku hanya berharap, hanya waktu yang akan mengikis semua cerita tentang kita.

Karena esok,
Aku mau kamu bukan hanya tersenyum padaku, tapi aku ingin kamu benar – benar tersenyum untukku.
Kalau memang harapan itu ada, bisakah kau memberikanku sedikit pertanda, agar aku setiaknya tidak kehilangan arah untuk terus melangkah ?
Kalau memang tidak, bisakah kau setidaknya menyalakan lampu merahmu, sebelum aku benar benar melintasi jalan yang sebenarnya bukan untukku ?

Karena,,

Kemarin, hari ini, dan esok.
Aku akan selalu ada untukmu, meski kau tak selalu ada untukku.
Aku akan terus menungguku, meski kau tak selalu menungguku.

Karena,,

Kemarin, hari ini, dan esok.
Aku ingin selalu ada cerita tentang kita.



:):):)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Senyuman itu Hilang dari Wajahmu


Malam itu seperti malam biasanya, semua berjalan layaknya malam malam lalu. Hingga akhirnya, aku membuat sebuah kesalahan yang cukup fatal. Kurasa semua rasa itu langsung runtuh seketika. Beribu rasa sesal di hati sekaligus rentetan permintaan maaf yang coba ku lisankan, sepertinya belum cukup untuk mengembalikan pesona malam itu. Sebuah senyuman yang  awalnya hadir, berubah menjadi sebuah amarah dan tangisan seketika itu juga.

Yaaa, Ketika sebuah senyuman indah itu hilang dari wajahnya, yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan. Mengapa aku bisa berbuat hal sebodoh itu ?, tanpa memikirkan reaksi yang terjadi selanjutnya. Benar saja, malam itu seolah berbeda, gairah untuk melanjutkan malam itu seolah sirna, seiring dengan dering handphone ku yang tak kunjung bergetar.

STAK !!!,  mentok, bingung, dan tak tahu harus mengungkapkannya seperti apa. Malam itu terasa berat bagiku. Hati ini seolah tak tenang, dan terus menyalahkan tangan yang mengetik kata kata itu, otak yang berfikir tentang kata kata itu, dan semua hal yang dapat kusalahkan.

Ingin rasanya ku segela terlelap, dan berharap ketika ku terbangun nanti, semuanya akan kembali normal. Tapi, jangankan untuk terlelap, untuk sedikit relax pun tak mampu. Hanya kata maaf yang berusaha ku ucap. Aku hanya tak ingin ada hati yang tersakiti. Heyyy, kapan pagi hari kan segera datang menggantikan sang malam ???. Kurasa itu masih beberapa jam lagi

Esok pagi, ku coba tuk berfikir positif dan melihat apakah ada tanda pesan darimu. Namun nyatanya, itu semua sama sekali tak ada. Yahhhh, rasanya hari ini akan kulewati dengan sangat berat. Atau bahkan hari hari selanjutnya pun akan seperti ini. Kembali ku mencoba untuk membuat senyum itu kembali hadir, sebuah pesan yang ku kirimkan, dengan harapan ia mau mendengar alasanku. Namun, itu semua tak semudah itu.

Ku tinggalkan sejenak cerita tentangnya, dan mencoba mengikuti alur hari itu. Serangkaian permainan outbond yang coba ku ikuti. Namun rasanya, tak mudah untuk menyingkirkan rasa itu. Hingga pada akhirnya, kecerobohan  ku sendiri yang membuat ku jatuh di lembah itu. Sakit memang, tapi mungkin tak sesakit yang hati ini rasakan. Biarlah kurasakan ini, anggap saja sebagai sebuah balasan karena aku telah menghancurkan senyuman itu.

Jernih warna air pantai, desir ombak yang berirama, bentangan pasir krem keclokatan yang ada dihadapanku seolah tak mampu menghiburku. Termenung di pesisir pantai, tanpa menikmati sedikitpun tentang segala keindahan yang tercipta untukku. Untuk apa aku disini, ketika semua sedang bersenang – senang menikmati hari ini, aku hanya bisa terkurung dalam imajinasiku. Andai saja aku tidak menjadi diriku malam itu, mungkin semuanya tak akan seperti ini.

Hingga saatnya sebuah percakapan kembali terjalin, dan rasanya hampir putus asa. Aku berusaha merelakan apa yang terjadi hari ini. Tak apa bagiku, jika kau tak ingin kembali bercengkrama denganku, tapi aku hanya ingin meminta maafmu sejenak. Setelah itu, silahkan lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku.

Saat rasa sakit semakin memuncak akibat kecerobohanku sendiri, terlintas sebuah asa tentang senyuman malam itu. Setidaknya, aku bisa sedikit lebih tenang,  Aku harap tak akan ada lagi malam yang kulewati seperti malam itu. Aku hanya tak ingin semua keceriaan itu hilang menghiasi hari – hariku. Ketika senyuman itu hilang dari wajahmu, aku pun nyaris kehilangan semangatku. Karena ketika senyuman itu tak lagi hadir, aku pun ikut kehilangan senyuman itu.


Jadi, teruslah tersenyum untukku. Teruslah buat aku merasakan bahwa hari itu semakin indah dengan hadirnya dirimu. Dan ku mohon untuk terus mengisi hari hariku dengan senyum dan keceriaanmu. Karena kuingin, senyuman itu selalu hadir untuk setiap rasa yang kudapat,,,




-o0o-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analogi Sebuah Lukisan : Kesalahan sang Ekspektasi


Di suatu sisi, akan ada orang yang berkata : “wahhh, Lukisannya bagus ya, keren bisa gambar seperti ini, padahal kan dia bukan pelukis...”

Dan di sisi yang lain, seseorang juga bisa berkata : “Lukisannya biasa aja ah, dia kan pelukis, harusnya gambarnya lebih bagus daripada ini...”


Itulah hidup, terkadang rasanya muak ketika kita hidup dalam ekspekatasi orang lain.
Ketika kita ingin mempersembahkan sesuatu, orang lain selalu punya standar akan hal itu.
Hingga akhirnya, terasa akan adanya beban yang menancap di pundak ini.
Ya, rasanya beban itu membuat semangat tak semembara dulu.


Bolehkah setidaknya aku bertanya sejenak ?
Salahkah aku yang tak ingin dicap seperti apa yang kalian bayangkan ?
Bisakah aku menjadi aku yang apa adanya, tanpa batasan ekspektasi yang kalian buat ?
Mampukah aku untuk tetap menjadi aku yang sama seperti kalian ?


Layaknya sang pelukis ulung, ada kalanya hasil lukisannya tak sebagus biasanya. Namun mengapa orang lain mengecap itu sebagai sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Salahkah seorang pelukis ulung melukis hal yang biasa saja ? Haruskah selalu pelukis ulung itu melukis sesuai dengan apa yang kalian harapkan ?
Namun, ketika seseorang biasa memegang lukisan yang dibuat oleh sang pelukis ulung, dan berkata bahwa itu adalah lukisan yang ia goreskan. Respon dari khalayak ramai justru memujinya, dan mengatakan bahwa itu kerja yang baik. “Hey, Apa bedanya jika sang pelukis ulung yang memegangnya ?”, Bukankah hal itu tidak adil ?, Tapi itulah paradigma yang terjadi saat ini. Bukan apa yang dihasilkan, tetapi siapa yang menghasilkan.


Suatu ketika, seseorang berekspektasi padaku tentang apa yang dia harapkan dariku. Tapi kurasa, itu bukanlah aku. Seolah menggambarkanku sebagai sosok yang pandai, rajin, selalu belajar, kutu buku, unsosial,,, layaknya mayoritas dari mereka yang sekedar mengenalku. Tapi apakah aku sesempurna itu ? atau bahkan seburuk itu ?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analogi Persahabatan : Koin dan Sepatu

Sebuah kilasan video, yang dibuat menjadi potongan gambar
menceritakan tentang sebuah pengandaian arti sahabat,
dari hal yang simpel, namun penuh makna,

Dibuat pada tanggal 11-11-2011, 

niat awal dibuatnya video ini adalah sebagai hadiah untuk sahabat terbaikku :)
so, check it out !!!





Terima kasih atas apa yang telah kalian ajarkan padaku :)
Dan ingat janji kalian padaku, karena aku kan selalu ingat janjiku pada kalian :) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Diam dan Hening : Sebuah persimpangan Jalan

Sahabat,
Ketika aku tersenyum, bukan berarti aku tidak membutuhkan bantuanmu.
Ketika aku menangis, aku hanya sedang menanti perhatianmu.
Disaat engkau terdiam, aku pun ikut terdiam,
Karena diam, bukan berarti kita tidak saling bicara,
Karena diam, tak sekedar hening.
bahwa diam, tanpa kata namun tetap bermakna.


Diam dan hening,,,
Terdiam didalam keheningan, tapi tidak hening dalam kediaman.
Saat langkah tak menepi, berhenti di sebuah persimpangan jalan.
Mencoba melangkah namun tak tahu arah, mencoba bertanya namun dalam diam


Mungkinkah harus kembali ?
Disaat sebuah pengharapan telah memulai langkahnya
Mungkinkah harus menyerah ?
Disaat puncak telah mulai terlihat, disaat aku mulai bisa berlari


Tidakkah kau sadari,
Persimpangan jalan ini hanya memberimu pilihan,
Pilihan tentang jalan yang akan kau lalui,
Jadi, tak ada gunanya untuk sekedar terdiam,


Tidak ada persimpangan yang salah,
Yang ada hanya kita yang salah memberi makna,
Tidak ada jalan yang benar,
Ketika kita hanya bisa merasakan aura kegelapan didalamnya.


Dua dunia, dua pilihan, dua sisi,,
Namun satu makna, satu tujuan, dan satu rasa.


Persimpangan memberikan dua dunia, gelap dan terang
Persimpangan memberikan dua sisi, cahaya dan takut
Namun, persimpangan juga memberikan dua pilihan,
Gelap dalam terang, atau terang dalam gelap.
Cahaya dalam ketakutan, atau ketakutan dalam cahaya.
Itu mengapa, sebuah persimpangan jalan bisa menjadi sangat menakutkan sekaligus sangat mengharukan.


Tapi, pada akhirnya persimpangan memberikan satu makna, tujuan, serta rasa.
Makna bahwa tujuan kita berawal dari rasa,
Bahwa Tujuan kita memiliki rasa yang bermakna,
Dan Rasa dalam makna untuk satu tujuan..


Jadi, Belum saatnya berhenti hanya karena sebuah persimpangan jalan.
Tetaplah berjalan, tanpa ragu,
Jika ragu, mungkin ada kalanya kita harus sedikit merangkak untuk mencapai seberang jalan.


Sebuah kilas balik perjalanan seorang anak manusia, yang tengah berusaha mempertahankan jati dirinya, yang kini berada di arus permainan kedewasaan. Tidak perlu merunut kejadian yang lalu. Yang kita butuhkan saat ini adalah kesempatan untuk percaya bahwa kita punya sebuah mimpi yang harus diwujudkan, bahwa kita hanya ingin mencapai satu asa yang telah kita tancapkan di puncak.



Malam ini, sedikit belajar dari sebuah persimpangan, mengenai arti penguatan jati diri yang sebenarnya :)


Regrads  


~AYH~  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS