RSS

Analogi Sebuah Lukisan : Kesalahan sang Ekspektasi


Di suatu sisi, akan ada orang yang berkata : “wahhh, Lukisannya bagus ya, keren bisa gambar seperti ini, padahal kan dia bukan pelukis...”

Dan di sisi yang lain, seseorang juga bisa berkata : “Lukisannya biasa aja ah, dia kan pelukis, harusnya gambarnya lebih bagus daripada ini...”


Itulah hidup, terkadang rasanya muak ketika kita hidup dalam ekspekatasi orang lain.
Ketika kita ingin mempersembahkan sesuatu, orang lain selalu punya standar akan hal itu.
Hingga akhirnya, terasa akan adanya beban yang menancap di pundak ini.
Ya, rasanya beban itu membuat semangat tak semembara dulu.


Bolehkah setidaknya aku bertanya sejenak ?
Salahkah aku yang tak ingin dicap seperti apa yang kalian bayangkan ?
Bisakah aku menjadi aku yang apa adanya, tanpa batasan ekspektasi yang kalian buat ?
Mampukah aku untuk tetap menjadi aku yang sama seperti kalian ?


Layaknya sang pelukis ulung, ada kalanya hasil lukisannya tak sebagus biasanya. Namun mengapa orang lain mengecap itu sebagai sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Salahkah seorang pelukis ulung melukis hal yang biasa saja ? Haruskah selalu pelukis ulung itu melukis sesuai dengan apa yang kalian harapkan ?
Namun, ketika seseorang biasa memegang lukisan yang dibuat oleh sang pelukis ulung, dan berkata bahwa itu adalah lukisan yang ia goreskan. Respon dari khalayak ramai justru memujinya, dan mengatakan bahwa itu kerja yang baik. “Hey, Apa bedanya jika sang pelukis ulung yang memegangnya ?”, Bukankah hal itu tidak adil ?, Tapi itulah paradigma yang terjadi saat ini. Bukan apa yang dihasilkan, tetapi siapa yang menghasilkan.


Suatu ketika, seseorang berekspektasi padaku tentang apa yang dia harapkan dariku. Tapi kurasa, itu bukanlah aku. Seolah menggambarkanku sebagai sosok yang pandai, rajin, selalu belajar, kutu buku, unsosial,,, layaknya mayoritas dari mereka yang sekedar mengenalku. Tapi apakah aku sesempurna itu ? atau bahkan seburuk itu ?


 

Seketika itu pula, ingin rasanya aku untuk meninggalkan mereka dengan ekspektasi mereka terhadap diriku. Ketika aku berusaha untuk mengembalikan apa yang seharusnya aku dapatkan, mereka hanya membalikkan pernyataanku dengan segala ekspektasi yang mereka berikan. “ Lo kan gini, gitu, bla bla bla, harusnya kan bla bla bla.....”,, Ahhh, sudahlah, percuma mendebatkan hal yang sekiranya tidak penting. Tidak akan menemukan sebuah titik terang.


Pernahkan aku meminta untuk digambarkan seperti ini ? pernahkah aku bermimpi menjadi sebuah lukisan yang dipegang oleh sang pelukis ulung ?. Tentu tidak!!!. Aku tidak pernah meminta akan hal itu, kalian sendiri yang menciptakan ekspektasi itu. Lalu, salahkah aku yang tak bisa memenuhi ekspektasi kalian. Tidakkah kalian memikirkan perasaan lukisan itu yang disalah artikan di tempat yang berbeda. Bisakah kita membuat satu paradigma baru, bahwa “Lihat saja karyanya, tanpa harus melihat siapa penciptanya”.


Terlepas dari Kesalahan ekspektasi tadi, yang kurasakan hanya beban. Beban untuk mewujudkan apa yang kalian harapkan. Aku hanya manusia biasa, yang terkadang juga ingin dianggap setara. Kalian memang tidak mengenal siapa aku. Hanya bisa menjudge dari sedikit yang kalian tahu tentang aku. Setidaknya, izinkan aku memperkenalkan siapa aku, aku yang seharusnya kalian ekspektasikan sebagaimana mestinya.


Sore ini, aku sejenak berfikir. Merenung di depan hamparan rumput hijau. Mengelilingi berbagai macam karakteristik orang yang sedang beraktifitas didalamnya.
Rasanya aku sudah lelah untuk memikirkan semua itu, aku hanya ingin diberikan kesempatan untuk menjadi diriku sendiri. Aku hanya ingin diperlakukan sama. Bukan menjadi seseorang yang punya kekuasanan dan kelebihan. Kita setara kawan, tidakkah kalian sadari hal itu.

Oke, itulah mereka yang belum mengenal siapa aku sebenarnya.
Namun, bagaimana dengan mereke yang ”katanya” mengenalku ?
Tidak jauh berbeda sepertinya, hanya sedikit sekali yang benar benar tahu bagaimana harus berekspektasi. Yah, setidaknya aku bisa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang benar benar bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Tapi, bukan itu yang aku permasalahkan. Kalian yang aku harapkan untuk tahu siapa aku, justru menjadi bagian dari mereka. Kalian yang aku inginkan untuk membuatku sedikit merasa tenang saat aku bilang bahwa aku tidak sanggup, justru kembali membalikkan pernyataanku. Lalu, apa bedanya ? .
Come on guys, aku berharap banyak dari kalian. Jika bukan kalian, siapa lagi ? jadi, tolong untuk tidak menerima paradigma itu. Bisakah kalian sedikit lebih peka untuk sedikit tahu siapa aku ?
Ketika aku berada di puncak kejenuhan terhadap ekspektasi yang mereka berikan, ingin rasanya melihat kalian tidak menjadi bagian dari yang membuatku jenuh.


Saat aku berfikir, apakah harus aku merubah total apa yang saat ini ada padaku ? apakah aku harus menjadi orang lain agar aku mendapatkan ekspektasi yang aku inginkan ?


Rasanya mungkin saja aku untuk melakukan hal itu. Menjadi seseorang yang jauh lebih liar, jauh lebih tidak sesuai dengan ekspektasi yang mereka berikan. Tapi aku tidak bisa. Bukan berarti aku tidak mau, tapi ada suatu hal yang rasanya tidak bisa kujelaskan saat ini. Kalau aku bisa, ingin ku keluar dari pusara yang menyesatkan ini. Dan mencari sebuah penghidupan baru dengan sebuah image baru. Itu dulu sudah kulakukan, sebelum aku benar benar mendapatkan tamparan dari seseorang yang peduli padaku.


Maaf jika aku sedang bersifat sedikit egois. Maaf jika aku sedang tidak ingin diperdebatkan oleh kalian. Aku hanya ingin mendapatkan kembali apa yang seharusnya aku dapatkan. Aku sedang berusaha mengembalikan memoriku tentang dimana seharusnya aku berjalan. Bukannya aku melupakan kalian, tapi sebaiknya kalian kembali mengulang untuk mengingat siapa aku. Kembalikan ekspektasi yang dahulu pernah ingin kutanamkan pada kalian. Namun benih itu, tidak kalian simpan dalam otak kalian.



Sedikit yang bisa aku utarakan tentang siapa aku seharusnya. Tak banyak yang aku harapkan selain akan ada suatu hari dimana aku kembali ke tempat yang seharusnya ku lalui. Aku tidak ingin Egois, apalagi individualis. Aku hanya ingin menjadi aku yang biasa. Terima kasih untuk kalian yang mengerti aku. Dan mohon maaf, bagi kalian yang mengerti aku. :)


                                                                                                                                                Regrads

 
                                                                                                                                                ~AYH~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Anonim mengatakan...

serupa gan, ane juga ngerasa gitu kok, semoga ekspektasi kembali pada jalannya ya ::)))

Unknown mengatakan...

wahhh, ternyata agan juga sama,,,
aamiin gan, ane hanya berusaha untuk jadi diri sendiri :)

Posting Komentar