RSS

My Story : "Aku Yang Berbeda" PART 1



Senja malam, di sebuah kota namun bersuasana layaknya desa. Jauh dari segala keriuhanlayaknya  kota – kota padat di Indonesia. Hanya pepohonan yang menghiasinya. Layaknya sebuah gedung terisolasi, asrama ini terkesan menyeramkan dengan penerangan jalan yang seadanya. Di sebuah balkon asrama tersebut, duduk seorang pria yang tengah termenung memikirkan sesuatu. Seperti merasakan sesuatu yang entah apa itu. Orang itu berperawakan tinggi, berkulit kecoklatan dan bertubuh kecil. Ya, itulah saya, yang hingga kini entah belum menemukan jati diri saya disini. Ariyan, mahasiswa sebuah universitas terkemuka di Indonesia yang kini telah tiga bulan meninggalkan keluarga dan teman – teman yang selalu mampu membuatnya ceria. Namun, semuanya berubah setelah kini, bertubi – tubi masalah yang entah seperti tak pernah padam. Semuanya berawal dari sini, disaat semuanya berawal dengan indah.
Hari – hari awal asrama. . .
Semuanya serasa berjalan baik – baik saja. Perkenalan, adaptasi, bertemu dengan tiap – tiap jiwa baru yang belum terlihat jelas siapa pribadi masing – masing mereka. Semuanya begitu indah, saat tiga serangkai bertemu dan mulai mengenal pribadi masing – masing secara langsung. Senyuman yang tidak tulus, mungkin karena memang ini bukan tempatku, perasaan yang entah mengapa membuat hati ini bertanya, benarkah ini ? . Entah tak peduli atau tak merasa, pertanyaan itu ku buang jauh – jauh. Sekiranya, mereka adalah sosok yang masih misterius di benakku. Belum jelas dalam penghlihatan, siapa sosok di balik tubuh itu yang sebenarnya.
Hari demi hari terus berlalu, dan kurasa waktu terus berjalan. Aku yang hingga kini masih belum merasakan bahwa inilah aku, disinilah rumahku, berusaha tuk berjuang. Berjalan dan terus berjalan. Itu yang kulakukan. Entah sampai kapan harus tetap seperti itu, yang jelas tidak akan berhenti hingga ku menemukan sebuah pintu dengan cahaya berkilau didalamnya. Mungkin perumpamaan seperti inilah yang mungkin masih ku rasakan hingga saat itu. Tak jelas tujuannya, entah kemana harus berpangku, seolah anak kecil yang kehilangan ibunya. Lelah,  itulah yang mungkin ingin diungkapkan oleh hati ini. Seakan tidak mendapat jawaban dari seseorang di ujung sana. Jiwa ini mungkin dapat berdiri tegak dan tersenyum di hadapan mereka, namun hati ini rapuh, seolah tidak mau melihat bahwa kehidupan masih terus berjalan. Inilah diriku yang seorang diri, bagai seonggok batu di jalanan dan tidak ada yang memperhatikannya.
Selang waktu berjalan, senyuman itu kembali datang, seolah mengingatkanku akan pertanyaan yang kini kembali terngiang di otakku. Dan kembali, otakku tidak mau berpusing dengan hal semacam itu. Tanpa pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Lambat laun, kesepian itu berubah menjadi suatu keceriaan, saat ku bertemu dengan mereka. Siapa mereka ?. . . tidak tahu, namun kurasa mereka lah yang akan membantu mengungkap semua pertanyaan ini. Hari demi hari, kehidupan seolah bertambah pelik. Di saat kebahagiaan mulai menulusuk ke dalam raga yang telah bangkit ini, satu per satu masalah pun muncul beriringan bak kereta yang tak berujung. Terus dan terus. . .  seolah terdorong ke dalam jurang yang curam namun tertahan oleh kaitan tali cahaya yang menarik ke atas. Tidak mustahil memang, untuk memilih di antara dua pilihan hidup tadi. Apakah memotong tali dan jatuh ke dalam jurang untuk selamanya, ataukan bangkit dan menarik tali tersebut hingga berhasil naik ke atas. Namun, tidak ada semangat ataupun keinginan untuk berbuat sesuatu. Hanya menggantung di tengah jurang dan menunggu, sampai kapankah tali ini mampu menopang tubuh ini sebelum ia putus. Atau adakah seseorang di atas sana yang akan menarik tali ini dan menolongku.
Tuhan, jika memang ini takdirmu, aku hanya berharap bahwa akan ada orang - orang penyelamat dalam hidupku yang mampu memberikan dorongan, semangat, harapan, seperti mereka yang dulu ku kenal. Mungkin ini hanya bualan bagiku, di mana aku hanya meminta tanpa berusaha untuk mencari. Tetapi, raga ini entah mengapa tidak ingin bergerak. Ternyata raga ini masih ingin menutup diri dan berfikir bahwa semuanya sudah terlambat. Terlambat untuk membuka diri. Benarkah itu ?. .  YA !!! seolah mulut ini mengiyakan dengan mantap. Tapi tidak dengan hati kecil ini. Ia terus meronta, berharap bahwa suara kecilnya akan didengar. Namun mungkinkah itu terjadi ??. . . mungkin saja, tapi aku tidak bisa menjamin kapan itu semua kan terjawab.
Tidak ada tempat bagi seorang loser di sini. Jika aku di sini, aku hanya akan menjadi segumpul sampah yang tidak berguna. Tak ada yang dapat dilakukan setumpuk sampah, kecuali hingga mereka disatukan ditempat pembuangan akhir, atau bisa disebut tempat kumpulan loser  dibuang. Kejam ? ya, memang. Dunia ini memang tidak seindah kelihatannya. Banyak orang hanya bersikap manis di depan. Namun di belakang ? mereka menyimpan sejuta kelicikan yang akan menambah tumpukan sampah di TPA. Lucu ? sangat lucu !!!! bagi mereka yang seolah berkepentingan sebagai suatu kaum brahmana. Sedangkan aku, hanyalah seorang kaum sudra  yang berusaha mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi, namun hanya sebuah kemuskilan belaka. Tidak ada lowongan bagi aku, bisa berada di posisi tertinggi, dimana semua orang tertuju padanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar