Senja
malam, di sebuah kota namun bersuasana layaknya desa. Jauh dari segala
keriuhanlayaknya kota – kota padat di
Indonesia. Hanya pepohonan yang menghiasinya. Layaknya sebuah gedung
terisolasi, asrama ini terkesan menyeramkan dengan penerangan jalan yang
seadanya. Di sebuah balkon asrama tersebut, duduk seorang pria yang tengah
termenung memikirkan sesuatu. Seperti merasakan sesuatu yang entah apa itu.
Orang itu berperawakan tinggi, berkulit kecoklatan dan bertubuh kecil. Ya,
itulah saya, yang hingga kini entah belum menemukan jati diri saya disini.
Ariyan, mahasiswa sebuah universitas terkemuka di Indonesia yang kini telah
tiga bulan meninggalkan keluarga dan teman – teman yang selalu mampu membuatnya
ceria. Namun, semuanya berubah setelah kini, bertubi – tubi masalah yang entah
seperti tak pernah padam. Semuanya berawal dari sini, disaat semuanya berawal
dengan indah.
Hari – hari awal
asrama. . .
Semuanya serasa
berjalan baik – baik saja. Perkenalan, adaptasi, bertemu dengan tiap – tiap
jiwa baru yang belum terlihat jelas
siapa pribadi masing – masing mereka. Semuanya begitu indah, saat tiga serangkai bertemu dan mulai
mengenal pribadi masing – masing secara langsung. Senyuman yang tidak tulus,
mungkin karena memang ini bukan tempatku, perasaan yang entah mengapa membuat
hati ini bertanya, benarkah ini ? .
Entah tak peduli atau tak merasa, pertanyaan itu ku buang jauh – jauh.
Sekiranya, mereka adalah sosok yang masih misterius di benakku. Belum jelas
dalam penghlihatan, siapa sosok di balik tubuh itu yang sebenarnya.
Hari demi hari
terus berlalu, dan kurasa waktu terus berjalan. Aku yang hingga kini masih
belum merasakan bahwa inilah aku, disinilah rumahku, berusaha tuk berjuang.
Berjalan dan terus berjalan. Itu yang kulakukan. Entah sampai kapan harus tetap
seperti itu, yang jelas tidak akan berhenti hingga ku menemukan sebuah pintu
dengan cahaya berkilau didalamnya. Mungkin perumpamaan seperti inilah yang
mungkin masih ku rasakan hingga saat itu. Tak jelas tujuannya, entah kemana
harus berpangku, seolah anak kecil yang kehilangan ibunya. Lelah, itulah yang mungkin
ingin diungkapkan oleh hati ini. Seakan tidak mendapat jawaban dari seseorang
di ujung sana. Jiwa ini mungkin dapat berdiri tegak dan tersenyum di hadapan
mereka, namun hati ini rapuh, seolah tidak mau melihat bahwa kehidupan masih
terus berjalan. Inilah diriku yang seorang diri, bagai seonggok batu di jalanan
dan tidak ada yang memperhatikannya.
Selang waktu berjalan,
senyuman itu kembali datang, seolah mengingatkanku akan pertanyaan yang kini
kembali terngiang di otakku. Dan kembali, otakku tidak mau berpusing dengan hal
semacam itu. Tanpa pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Lambat laun,
kesepian itu berubah menjadi suatu keceriaan, saat ku bertemu dengan mereka.
Siapa mereka ?. . . tidak tahu, namun kurasa mereka lah yang akan membantu
mengungkap semua pertanyaan ini. Hari demi hari, kehidupan seolah bertambah
pelik. Di saat kebahagiaan mulai menulusuk ke dalam raga yang telah bangkit
ini, satu per satu masalah pun muncul beriringan bak kereta yang tak berujung.
Terus dan terus. . . seolah terdorong ke
dalam jurang yang curam namun tertahan oleh kaitan tali cahaya yang menarik ke
atas. Tidak mustahil memang, untuk memilih di antara dua pilihan hidup tadi.
Apakah memotong tali dan jatuh ke dalam jurang untuk selamanya, ataukan bangkit
dan menarik tali tersebut hingga berhasil naik ke atas. Namun, tidak ada
semangat ataupun keinginan untuk berbuat sesuatu. Hanya menggantung di tengah
jurang dan menunggu, sampai kapankah tali ini mampu menopang tubuh ini sebelum
ia putus. Atau adakah seseorang di atas sana yang akan menarik tali ini dan
menolongku.
Tuhan, jika
memang ini takdirmu, aku hanya berharap bahwa akan ada orang - orang penyelamat
dalam hidupku yang mampu memberikan dorongan, semangat, harapan, seperti mereka
yang dulu ku kenal. Mungkin ini hanya bualan bagiku, di mana aku hanya meminta
tanpa berusaha untuk mencari. Tetapi, raga ini entah mengapa tidak ingin
bergerak. Ternyata raga ini masih ingin menutup diri dan berfikir bahwa
semuanya sudah terlambat. Terlambat untuk membuka diri. Benarkah itu ?. . YA !!! seolah mulut ini mengiyakan dengan
mantap. Tapi tidak dengan hati kecil ini. Ia terus meronta, berharap bahwa
suara kecilnya akan didengar. Namun mungkinkah itu terjadi ??. . . mungkin
saja, tapi aku tidak bisa menjamin kapan itu semua kan terjawab.
Tidak
ada tempat bagi seorang loser di
sini. Jika aku di sini, aku hanya akan menjadi segumpul sampah yang tidak
berguna. Tak ada yang dapat dilakukan setumpuk sampah, kecuali hingga mereka
disatukan ditempat pembuangan akhir, atau bisa disebut tempat kumpulan loser dibuang. Kejam ? ya, memang. Dunia ini memang
tidak seindah kelihatannya. Banyak orang hanya bersikap manis di depan. Namun
di belakang ? mereka menyimpan sejuta kelicikan yang akan menambah tumpukan
sampah di TPA. Lucu ? sangat lucu !!!! bagi mereka yang seolah berkepentingan
sebagai suatu kaum brahmana. Sedangkan
aku, hanyalah seorang kaum sudra yang berusaha mencapai tingkat yang lebih
tinggi lagi, namun hanya sebuah kemuskilan belaka. Tidak ada lowongan bagi aku,
bisa berada di posisi tertinggi, dimana semua orang tertuju padanya.






0 komentar:
Posting Komentar