RSS

My Story : "Aku Yang Berbeda" PART 3


Yah, mungkin hanya sebagian kecil dari sedikit kisah hidupku. Hidup haruslah terus berjalan. Hari berikutnya, semakin membuka mata dan fikiranku, bahwa jauh di luar sana masih banyak yang ingin mendorongku naik ke atas. Tetapi seperti terjebak dalam tembok pembatas yang mengurungku dalam segala arah. Seolah terlewat begitu saja, terdapat sebuah lubang kecil yang rapuh, yang mungkin bisa ditembus jika aku menyadari itu semua dan menunjukkan betapa dunia itu tidak hanya selebar daun talas. Bodohnya diri ini, mengetahui lubang itu pun butuh waktu yang cukup lama setelah semuanya terjadi. Penyesalan yang hanya tertinggal, mengapa aku seperti kehilangan jasad ?? hanya tertinggal jiwa yang lemah, yang tidak mampu melakukan apa – apa.
Lupakan semua yang telah lalu, yang harus kulakukan saat ini adalah bagaimana tuk menebus semua kebodohan yang kuperbuat di masa lalu. Tapi dengan apa ???. masih saja ku bertanya saat harapan itu sudah terlihat. Tidak ingin ku sia – siakan lagi, hanya ada satu cara tuk menembus semua dinding pembodohan. Dan saat ku keluar, terbukalah sebuah paradigma tentang hidup yang sesungguhnya. Masih banyak yang memberiku arti senyuman yang sesungguhnya. Mereka. . . ya, mereka. . . terfikir dalam benakku tentang mereka yang benar – benar dengan tulus berada di sampingku, di saat orang – orang itu tertawa licik menunggu sinarku redup. Entah kenapa, lilin – lilin kecil disekitarku berkumpul untuk membuat sinar itu kembali berkilau. Mereka datang dengan sejuta harapan, bahwa hidup bukan hanya seperti dua sisi dari sebuah kepingan logam, dunia itu tak berujung, bagaikan sebuah simfoni yang terus mengalun tanpa henti menjalar ke seluruh pelosok. Mereka yang mengajarkanku akan arti kehidupan yang sesungguhnya. Terutama untuk kalian. Kalian yang selalu ada saat raga ini butuh topangan, saat jiwa ini butuh semangat.
Tak banyak harapan yang bisa ku berikan pada kalian. Hanya sebuah harapan kecil agar hati ini tidak terlalu sakit saat semuanya berubah. Harapan agar kalian lah yang bisa mengusir segala kesakitan yang mungkin tak terelakkan lagi. Mungkin harapan kecil itu terlalu besar untuk dapat diwujudkan. Tapi ku rasa, jika dengan kalian semuanya akan terasa mudah. Kalian memang tidak selalu ada di sisiku, tapi kalianlah yang akan selalu berkata, jangan mudah menyerah dengan hidup ini, dan semuanya pasti akan cepat berlalu. Entah, serasa mimpi di tengah gurun pasir yang menjadi kenyataan. Sebuah senyuman kecil mulai tergores di wajah ini. Perlahan tapi pasti, semangat baru telah muncul. Pengalaman baru yang kalian berikanlah yang membuatku hingga sekarang berada di sini.
 Kalian adalah kalian, berbeda dengan mereka. tak peduli siapa aku, seberapa bodohnya aku, kalianlah yang benar – benar tulus menghampiriku. Tidak memakai kedok, dan tidak melupakanku hanya karena datang yang lebih sempurna. Sebuah sindiran bagi mereka yang seperti itu. Bukan menyindir, namun memang kenyataannya seperti itu. Dendam rasanya saat mengingat semua itu. Ingin rasanya untuk berteriak, bahwa sesungguhnya mereka adalah pengecut, sebagai penjilat yang tidak akan pernah puas menyakiti orang lain. Mereka yang dulu terlihat begitu sempurna, yang berusaha mengatakan bahwa ‘aku’ adalah teman kaliah. Dan, kini mereka berkata, ‘kamu’lah temanku, bukan ‘dia’. Sakit rasanya menjadi seseorang yang di acuhkan. Sakit rasanya menjadi kedelai yang hanya ditarik saat menuruni bukit, namun dinaiki saat menanjak. Ingin rasanya ku berkata, bahwa aku bukan mainanmu, mainan anak kecil.  Dimana, mainan lama akan ditinggalkan saat sang anak mendapatkan mainan baru. Maninan itu hanya akan dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan, dan hanya akan dimainkan saat mainan lamanya hilang. Mungkin sampai saat sang anak menemukan mainan barunya lagi.
Di saat sebuah janji telah terucap, di saat itu pula ia mengingkarinya dengan mudah. Tanpa pernah memikirkan bahwa, kalianlah yang merugi. Untuk apa aku yang susah payah mengingatkan mereka akan janji mereka. untuk apa aku berusaha membantu mereka yang telah membuang hidupku. Untuk APA ????.
Jalanilah hidup kalian sendiri. Teruslah membuat banyak orang sakit akan apa yang kalian lakukan. Mungkin memang ini yang kurasakan saat ini. Satu sisi subjektif yang belum tentu benar. Tapi menurutku, tidak ada salahnya tuk berpendapat, toh memang itu yang ku rasakan saat ini. Tidak melebih – lebih kan dan mengurang – ngurangkan sedikitpun. Lelah rasanya tuk terus menguak sisi lain dari semua ini. Dan kenapa semua ini harus terjadi. Semua pertanyaan yang terus menerus menjadi momok yang menakutkan bagiku.
Siapa aku ? kembali ke pertanyaan awal. . .
Tidak ingin ku menjawab pertanyaan itu. Biarlah orang yang menilai siapakah aku sebenarnya. Yang jelas, aku tidak ingin menjadi orang lain yang menggunakan kedok agar terlihat manis. Terlihat naïf . tapi itulah aku. Kekesalanku seperti memuncak saat mendengarkan kata –kata manis dari seorang penjilat besar. Tapi siapa aku, percuma aku berkata seperti ini. Toh, aku bukan siapa – siapa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar