Yah, mungkin
hanya sebagian kecil dari sedikit kisah hidupku. Hidup haruslah terus berjalan.
Hari berikutnya, semakin membuka mata dan fikiranku, bahwa jauh di luar sana
masih banyak yang ingin mendorongku naik ke atas. Tetapi seperti terjebak dalam
tembok pembatas yang mengurungku dalam segala arah. Seolah terlewat begitu
saja, terdapat sebuah lubang kecil yang rapuh, yang mungkin bisa ditembus jika
aku menyadari itu semua dan menunjukkan betapa dunia itu tidak hanya selebar
daun talas. Bodohnya diri ini, mengetahui lubang itu pun butuh waktu yang cukup
lama setelah semuanya terjadi. Penyesalan yang hanya tertinggal, mengapa aku
seperti kehilangan jasad ?? hanya tertinggal jiwa yang lemah, yang tidak mampu
melakukan apa – apa.
Lupakan semua yang telah lalu,
yang harus kulakukan saat ini adalah bagaimana tuk menebus semua kebodohan yang
kuperbuat di masa lalu. Tapi dengan apa ???. masih saja ku bertanya saat
harapan itu sudah terlihat. Tidak ingin ku sia – siakan lagi, hanya ada satu
cara tuk menembus semua dinding pembodohan. Dan saat ku keluar, terbukalah
sebuah paradigma tentang hidup yang sesungguhnya. Masih banyak yang memberiku
arti senyuman yang sesungguhnya. Mereka. . . ya, mereka. . . terfikir dalam
benakku tentang mereka yang benar – benar dengan tulus berada di sampingku, di
saat orang – orang itu tertawa licik menunggu sinarku redup. Entah kenapa,
lilin – lilin kecil disekitarku berkumpul untuk membuat sinar itu kembali
berkilau. Mereka datang dengan sejuta harapan, bahwa hidup bukan hanya seperti
dua sisi dari sebuah kepingan logam, dunia itu tak berujung, bagaikan sebuah
simfoni yang terus mengalun tanpa henti menjalar ke seluruh pelosok. Mereka
yang mengajarkanku akan arti kehidupan yang sesungguhnya. Terutama untuk
kalian. Kalian yang selalu ada saat raga ini butuh topangan, saat jiwa ini
butuh semangat.
Tak banyak harapan yang bisa
ku berikan pada kalian. Hanya sebuah harapan kecil agar hati ini tidak terlalu
sakit saat semuanya berubah. Harapan agar kalian lah yang bisa mengusir segala
kesakitan yang mungkin tak terelakkan lagi. Mungkin harapan kecil itu terlalu
besar untuk dapat diwujudkan. Tapi ku rasa, jika dengan kalian semuanya akan
terasa mudah. Kalian memang tidak selalu ada di sisiku, tapi kalianlah yang
akan selalu berkata, jangan mudah menyerah dengan hidup ini, dan semuanya pasti
akan cepat berlalu. Entah, serasa mimpi di tengah gurun pasir yang menjadi
kenyataan. Sebuah senyuman kecil mulai tergores di wajah ini. Perlahan tapi
pasti, semangat baru telah muncul. Pengalaman baru yang kalian berikanlah yang
membuatku hingga sekarang berada di sini.
Kalian adalah kalian, berbeda dengan mereka.
tak peduli siapa aku, seberapa bodohnya aku, kalianlah yang benar – benar tulus
menghampiriku. Tidak memakai kedok, dan
tidak melupakanku hanya karena datang yang lebih sempurna. Sebuah sindiran
bagi mereka yang seperti itu. Bukan menyindir, namun memang kenyataannya
seperti itu. Dendam rasanya saat mengingat semua itu. Ingin rasanya untuk
berteriak, bahwa sesungguhnya mereka adalah pengecut, sebagai penjilat yang
tidak akan pernah puas menyakiti orang lain. Mereka yang dulu terlihat begitu
sempurna, yang berusaha mengatakan bahwa ‘aku’ adalah teman kaliah. Dan, kini mereka
berkata, ‘kamu’lah temanku, bukan ‘dia’. Sakit
rasanya menjadi seseorang yang di acuhkan. Sakit
rasanya menjadi kedelai yang hanya ditarik saat menuruni bukit, namun
dinaiki saat menanjak. Ingin rasanya ku berkata, bahwa aku bukan mainanmu, mainan anak kecil. Dimana, mainan lama akan ditinggalkan saat
sang anak mendapatkan mainan baru. Maninan itu hanya akan dimasukkan ke dalam
kotak penyimpanan, dan hanya akan dimainkan saat mainan lamanya hilang. Mungkin
sampai saat sang anak menemukan mainan barunya lagi.
Di
saat sebuah janji telah terucap, di saat itu pula ia mengingkarinya dengan
mudah. Tanpa pernah memikirkan bahwa, kalianlah yang merugi. Untuk apa aku yang
susah payah mengingatkan mereka akan janji mereka. untuk apa aku berusaha
membantu mereka yang telah membuang hidupku. Untuk APA ????.
Jalanilah hidup kalian sendiri. Teruslah
membuat banyak orang sakit akan apa yang kalian lakukan. Mungkin memang ini
yang kurasakan saat ini. Satu sisi subjektif yang belum tentu benar. Tapi
menurutku, tidak ada salahnya tuk berpendapat, toh memang itu yang ku rasakan
saat ini. Tidak melebih – lebih kan dan mengurang – ngurangkan sedikitpun.
Lelah rasanya tuk terus menguak sisi lain dari semua ini. Dan kenapa semua ini
harus terjadi. Semua pertanyaan yang terus menerus menjadi momok yang
menakutkan bagiku.
Siapa aku ?
kembali ke pertanyaan awal. . .
Tidak ingin ku
menjawab pertanyaan itu. Biarlah orang yang menilai siapakah aku sebenarnya.
Yang jelas, aku tidak ingin menjadi orang lain yang menggunakan kedok agar
terlihat manis. Terlihat naïf . tapi itulah aku. Kekesalanku seperti memuncak
saat mendengarkan kata –kata manis dari seorang penjilat besar. Tapi siapa aku,
percuma aku berkata seperti ini. Toh, aku bukan siapa – siapa.






0 komentar:
Posting Komentar