RSS

My Story : "Aku Yang Berbeda" PART 2


Dedaunan jatuh seiring hari berganti, namun apa yang berubah padaku ??? NIHILLL !!!  seolah memberikan penekanan, bahwa aku tidak mungkin bisa menjadi aku yang dulu. Anggaplah aku yang dulu adalah dua pribadi yang tidak sama. Atau bahkan aku sudak tidak mengenal lagi siapa aku yang sekarang. Senyum, canda, tawa, ketulusan  pada semua itu yang mungkin sudah tidak ku temui lagi. Sebuah senyum kosong tanpa makna lagi yang bisa ku berikan. Acting ??? aku rasa tidak. Karena memang aku tidak merasakan lagi makna sesungguhnya dari sebuah kebahagiaan.
Ingin rasanya ku menangis di pangkuan kedua orang tua ku, terutama ibuku. Dan dia akan berkata, bahwa semua ini ada ujian dari Allah SWT. yang akan membuatmu lebih dewasa. Usap lembut dari tangannya yang halus, senyumannya yang mampu membuat semuanya menghilang. Kehangatan dari kasih sayang seorang ibu. . .  sulit untuk diterima lagi, bahwa itu sudah tidak mungkin lagi. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Tidak pantas untuk mengadu padanya lagi. Apa yang akan dikatakan olehnya, jika ia tahu, kalau anak yang sudah besar ini masih cengeng ?? memalukan. . .  itulah yang ada dibenakku saat memikirkannya. Tidak bisa ku membayangkan bagaimana raut wajah ibu yang mulai lelah, namun masih diberi beban olehku ?
***
Terkadang aku berfikir, disini bukan tempatku. Aku harus segera keluar dari sini. Lebih baik ku mati daripada harus tetap berada di tempat ini. Ingin rasanya tuk merengek kepada kedua orang tua untuk segera keluar dari sini, namun apa jadinya yang akan terjadi. Kekecewaan dari mereka yang akan ku dapatkan kelak. Mah, Pah, jujur saja. Anakmu sudah tidak mau menghadapi segala permasalahan ini. Bukan kedewasaan yang ku dapat, malahan ego kekanak – kanakkan yang semakin menguat yang ku rasakan. Sesekali muncul dalam benakku, memori demi memori keindahan yang dulu sering ku rasakan. Dan air mata itu seoah jatuh mengiringi semuanya. Aku rindu dengan masa itu, dimana aku dapat meluapkan segala yang ingin ku emosikan. Otak ini meronta, karena ia telah dipaksa mencapai titik jenuh dari kapasitas yang mampu ia sanggah.
Suatu ketika, kedua orang tuaku berharap banyak akan apa yang ku jalani sekarang. Dan yang mereka inginkan saat ini adalah agar aku mampu tuk menjadi seperti apa yang mereka harapkan, yaitu menjadi mahasiswa yang berpreatasi. Ingin rasanya tuk menolak semua itu, dan berkata bahwa aku tidak kuat untuk melanjutkan kehidupanku yang sekarang. Bahwa aku tidak bisa seperti yang kalian bayangkan. Tapi, mereka tetap saja memberikan sebuah senyuman tulus, serta dorongan nyata yang membuatku sejenak berfikir bahwa aku tidaklah merupakan sebuah kesalahan. Rindu yang begitu dalam, rasa ingin segera kembali ke dekap mereka memberatkan kembali langkahku. Kalau aku bisa mendapatkan kebahagiaan di sana, kenapa aku harus ada di sini. Namun, aku takkan selamanya berada di sana, karena kehidupan yang telah menggariskanku untuk berada di sini.
Serba salah. . . jika ku masih berharap bahwa akan ada yang datang menghampiriku dan bertanya mengapa ku bersedih. Apa salah ? jika ku hanya ingin sosok seorang sahabat yang mau membantuku. Apa salah ? jika ku hanya menginginkan sosok ibu yang mau membuatku bangkit dan kembali berjalan. Apa salah ? jika aku hanya seorang manusia lemah yang tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan sendiri. Salah besar jika banyak orang menganggap semua itu salah. Karena, aku pun masih membutuhkan mereka. Mereka yang mampu mengisi kebahagiaan yang tulus. Bukan karena sebuah topeng licik yang menutupi wajah tengil mereka. Bukan karena sebuah images yang ingin mereka tampilkan dengan segala kesempurnaan yang mereka miliki.
Satu per satu misteri mulai terkuak. Tercengang rasanya saat mengetahui kenyataan yang sesungguhnya lebih kejam dari apa yang kita bayangkan. Dan lebih kaget lagi, saat diri ini tahu bahwa orang lain mampu menghadapinya dengan sebuah senyuman. Tapi aku, hanya terdiam di sudut ruang gelap dalam hati ini dan menangis seolah ingin pulang dan tidak mau kembali ke kenyataan yang sesungguhnya. Mengapa mereka bisa tetapi aku tidak ?? Karena mereka memiliki orang – orang yang mereka cintai. Dan aku tidak, simple kan ?? ya memang. Aku hanya perlu mencari orang yang menyayangiku. Namun, praktek tidak semudah teori. . .
Terlalu banyak mengeluh. . .
Namun itulah bentuk perasaan yang ingin ku sampaikan pada semua. Bahwa, semua ini tidak adil. Bukan aku tidak bersyukur atas semua yang telah digariskan dalam hidupku. Akan tetapi, aku hanya ingin menceritakan sebuah pengalaman pahit dalam hidupku.
 ***
Ku teruskan sebuah pencarian hidupku yang kini terus berjalan episode demi episode. Telah banyak cerita kesedihan yang kualami. Apa aku tidak memiliki cerita kebahagiaan ??? tentu ada, terlalu banyak kebahagiaan yang telah menghampiri hidupku dan kini lenyap hanya karena mereka. merugilah rasanya diri ini. Untuk apa terdiam di saat orang lain mulai berlari tuk mencapai puncak. Untuk apa bersembunyi di saat orang lain mulai tuk mencari sebuah arti kehidupan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar